Senin, 16 Juni 2008

Peri Cantik... Terbanglah...

Semuanya terjadi begitu cepat, dia, peri cantik dalam hidupku, kulepaskan pergi, pada akhirnya…

Peri cantik, yang selama ini terbalik, aku selalu ingin menjaganya, dalam segala keadaanku, sehat, sakit, terbatuk – batuk ataupun mati, aku selalu ingin ada di sampingnya, memastikan dia selalu hangat..

Koma, itulah diriku sekarang, dipaksa bertarung dengan keadaan, ah bukan, kenyataan. Kenapa dunia ini begitu sempit? Begitu sulit peri cantik itu ku temukan, dan kini ia ku lepaskan pergi, logis memang, karena dia peri bagiku, dan malaikat bagi kekasihnya.

Peri cantik, mengobati hatiku yang selalu terluka oleh senyuman dunia yang ku tak tahu artinya, peri cantik selalu menghangatkanku seperti secangkir teh yang pagi hari dihidangkan Tuhan ku tercinta.

Peri cantik, salahku terlalu banyak bermain dengan waktu, salahku terlalu banyak bermain dengan hatiku, hingga pada akhirnya detik ini kuserahkan kau pada alaminya sambutan cinta kekasihmu, aku tetap meneteskan air mata. Salahku selalu bermain dengan ratu suara yang juga ratu untuknya, keikhlasan, kini perlu ku uji sejauh mana, demi menjaga peri cantikku tetap bersinar.

Kenapa semua ini terjadi begitu cepat? Kenapa cepat sekali dunia ini memutuskan bahwa kenyataan terjebak dalam kesempitan? Dunia, aku bertanya kepadamu, kenapa kau memilih berputar dengan otonom atas dirimu sendiri? Semuanya sempurna hingga kau berputar pada porosmu, telah ku orbitkan satelitku tuk selalu berada di atas dia tanpa dia menyadarinya, untuk menyelubungi dia dari semua hal yang mengganggunua, ternyata, selubung itulah yang mengganggunya, akulah satelit itu, akulah yang mengganggunya, menyelubungi seorang peri yang juga malaikat.

Peri cantik, berikan maafmu yang termanis sekarang, di saat terakhir aku menuangkan semua tentang dirimu, peri cantik yang kulepaskan, jauh ke langit yang sepertimu, biru. Peri cantik, akan kutitipkan salamku padamu lewat suara yang selalu kau lantunkan pagi hari, walaupun aku tak lagi menemanimu terbang, tapi aku akan selalu bisa merasakan senyummu dan kerinduanmu akan sayapmu.

Dan jika suatu saat kau mengepakkan sayapmu tuk terbang kepadaku, aku akan tetap disini.

Terbanglah, peri cantikku, terbanglah, jadilah malaikat yang selalu bersinar untuknya…

_untuk peri cantikku_

27 januari 2007

February 08, 2007

Tidak ada komentar: